Catatan dan Kajian

Just another Blogdetik.com weblog

[Sosial] Bakar Diri sebagai sebentuk kritik sosial

Beberapa hari terakhir ini, perhatian masyarakat tertuju pada seorang pemuda yang membakar dirinya di depan Istana. Beragam tanggapan orang menyikapi fenomena yang tidak biasa itu. Ada yang bilang si pelaku protes atas kinerja pemerintah yang tidak memuaskan sampai yang mengatakan bahwa semua ini hanya untuk cari sensasi. Apapun motivasinya, hal itu mungkin selamanya akan jadi misteri berhubung si pelaku kini telah meninggalkan dunia untuk selama-lamanya. Menjatuhkan diri dalam kebinasaan, apalagi dengan cara membakar diri, jelas tidak diperbolehkan dalam ajaran Islam. Islam memerintahkan para pengikutnya agar selalu mencari cara-cara konstruktif dalam mengatasi persoalan dan ujian kehidupan.

Namun, fenomena bakar diri seharusnya menjadi kritik pedas dan masukan berharga bagi pihak penguasa untuk mulai memperhatikan setidaknya mendengarkan keluhan rakyatnya. Betapa selama ini mereka sudah terlena dengan kenyamanan dan kemewahan sehingga tidak lagi mampu memahami derita rakyat yang miskin dan sengsara. Mereka yang biasa kenyang dengan hidangan lezat tentu susah merasakan perihnya rasa lapar yang melilit perut sebagian rakyat Indonesia. Mereka yang selalu berpergian dengan mobil-mobil mewah tentu sulit untuk berempati pada para pekerja yang harus selalu bolak balik menggunakan angkutan umum yang padat, semerawut dan rawan kejahatan. Mereka yang selama ini kantongnya terus menerus bertambah tebal tentu tidak mampu membayangkan ada orang yang keuangannya sangat terbatas hingga makanan pun hampir tak terbeli. Kekayaan alam negeri ini yang begitu melimpah ternyata hanya bisa dinikmati segelintir penduduknya. Yang lain hanya mendapat sisa, itu pun kalau masih ada. Orang-orang miskin telah menjadi fenomena yang biasa, sehingga terlupakan bahwa mereka juga manusia dan warga negera yang berhak mendapat hak-haknya di negeri ini. Semua itu seakan mengingatkan kita kembali pada kata-kata sang maestor manajeman Pieter F. Drucker “Tidak ada negara yang miskin, yang ada adalah negara salah urus”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun pernah bersabda: “Jika amanat telah disia-siakan, tunggu saja kehancuran terjadi.” Ada seorang sahabat bertanya; ‘bagaimana maksud amanat disia-siakan? ‘ Nabi menjawab; “Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu.” (HR Bukhari - 6015). Sehingga, bisa dipahami apabila ada orang yang sudah putus asa lalu protes dengan cara membakar diri. Apalagi lokasi yang dipilih untuk melakukan tindakan nekat itu adalah di depan istana Negara, simbol dari pemerintahan Indonesia.

Fenomena bakar diri di depan Istana adalah puncak gunung es dari pesoalan sosial yang sudah lama terpendam di negeri ini. Kritik sosial pada para penguasa sudah lama dilakukan baik oleh para mahasiswa, sniman maupun rakyat jelata. Beragam karya mulai dari puisi, karikatur, lagu sampai teater banyak yang menyoroti kinerja pemerintah yang dianggap zalim dan tidak memuaskan. Beragam talkshow dan parodi politik tumbuh subur bagai cendawan di musim hujan semenjak era reformasi. Namun, semua itu seakan tak berpengaruh pada keadaan masyarakat. Kini, daripada ikut-ikutan bakar diri, mungkin sudah waktunya kita bertanya pada rumput yang bergoyang.

Mungkin Tuhan mulai bosan
Melihat tingkah kita
Yang selalu salah dan bangga
dengan dosa-dosa

Atau alam mulai enggan
Bersahabat dengan kita
Coba kita bertanya pada
Rumput yang bergoyang

Ebiet G. Ade,
Berita kepada kawan

[Day 145] Rahasia Memaafkan

Salah satu rahasia kesuksesan dari orang-orang besar adalah kesediaan mereka memaafkan. Rasulullah SAW berhasil membebaskan kota Makkah dari kekuasaan orang kafir Quraisy hanya dalam waktu 23 tahun karena beliau mudah memaafkan orang lain. Saat futuh Makkah, musuh-musuh beliau sudah tidak berdaya sehingga apabila beliau berkehendak, sangat mudah untuk memerintahkan pasukannya membantai penduduk Makkah hingga tak bersisa. Kebesaran jiwa Rasulullah yang membuatnya bersedia memaafkan menyebabkan kaum musyrikin Quraisy di Makkah berbondong-bondong memeluk agama Islam saat itu. Peristiwa itu dikenal dalam sejarah sebagai Fathu Makkah atau Kembalinya Makkah ke pangkuan kaum Muslimin. Demikian pula Ali bin Abi Thalib, yang malah tidak jadi membunuh musuhnya karena si musuh meludahi wajahnya. Ali khawatir dia membunuh orang karena keinginan dan dendam pribadi, bukan karena perintah Allah SWT. Membunuh manusia, jika tidak sesuai ketentuan syariat, sangat besar dosanya. Tindakan seperti itu bagaikan membunuh semua manusia, sebagaimana tercantum dalam ayat 32 surat Al Maidah: “… siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain atau karena membuat kerusakan di Bumi, seolah-olah dia telah membunuh manusia seluruhnya … “.

Mengapa hati ini seringkali begitu sulit untuk menerima kebenaran dan memaafkan orang lain? Mengapa kekecewaan, kemarahan dan bahkan dendam mudah sekali menempel bahkan berurat dan berakar dalam hati kita? Apakah memang hati manusia harus tunduk pada perasaan-perasaan emosional yang tidak pada tempatnya itu? Bukankah kita selama ini telah banyak mempelajari agama dan telah memahami bahwa Allah SWT adalah Zat yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang?

Lubuk Hati manusia yang paling dalam memiliki vibrasi energi yang sangat halus dan tinggi sehingga tidak ada makhluk yang bisa mempengaruhinya. Qalbun atau hati adalah bagian dari ruh, dan manusia tidak memiliki pengetahuan tentang ruh kecuali sedikit sebagaimana disebutkan dalam Surat Al Isra ayat 85. Manusia hanya dititipi qolbu/hati namun tidak diberi kemampuan untuk mengendalikannya. Vibrasi energi qolbu terlalu tinggi untuk bisa dipengaruhi atau dikendalikan oleh manusia. Jangankan Qolbu, jantung dan organ tubuh lainnya saja tidak mampu kita kendalikan.

Allah SWT adalah satu-satunya Zat yang mampu membolak - balik hati setiap manusia. Namun, bisa jadi Allah SWT hanya bersedia membukakan hati dari orang-orang yang menyucikan dirinya. Sama halnya Allah SWT hanya mau menerima sholatnya orang-orang yang terlebih dahulu menyucikan dirinya dengan berwudhu. Mungkin, hal tersebut adalah bagian dari makna yang terkandung dalam ayat “Jadilah engkau Pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.” (Q.S.7: 199). Bodoh yang dimaksud dalam ayat ini tentunya bukanlah bodoh dalam arti intelektual, namun lebih pada rendahnya tingkat kecerdasan emosional dan spiritual. Banyak manusia yang jiwanya masih dikuasai ego dan dikotori oleh dendam, kemarahan serta kekecewaan. Semua emosi negatif yang berkerak itu membuat Allah SWT enggan membuka hati yang orang yang bersangkutan. Maka, jika Allah SWT enggan membuka hati seseorang, maka jiwa orang itu akan dikuasai ego dan dilumuri dendam seperti orang yang kotor karena tercebur ke dalam lumpur. Segala yang dia lakukan hanya untuk memuaskan dan memanjakan egonya. Riya, sum’ah, ujub dan bahkan takabur menjadi santapan jiwa kotornya sehari-hari. Mungkin secara materi duniawi, orang tersebut tergolong orang yan sukses besar dan hidup bergelimang kemewahan, namun hatinya keras dan jiwanya menderita. Teringatlah kita akan kata Ma’iisyatan Dhanka atau kehidupan yang sempit, yang terdapat dalam ayat “Maka, sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit.” (Thaahaa: 124).

Salah satu cara membersihkan hati adalah dengan banyak beristighfar. Dosa-dosa kita terampuni dan hati kita pun menjadi semakin bersih. Istighfar juga merupakan terapi psikologis yang baik untuk meredakan gejolak emosi yang timbul dari rasa bersalah ataupun keinginan yang tidak terpenuhi. Selain itu, kita juga dapat belajar untuk memaafkan dari pengalaman orang lain. Bukan tidak mungkin ada orang lain yang berhasil mengalahkan dirinya sendiri dengan menyucikan jiwa dan membersihkan hati sehingga Allah SWT membuka hatinya untuk memmaafkan. Kita bisa belajar kiat-kiatnya dari orang-orang tersebut. Insya Allah SOL School of Life akan mengadakan acara Life sharing yang bertema Forgiven, not Forgotten di mana kita akan saling belajar pada sesama peserta untuk menggapai kebersihan hati dan kebeningan jiwa. Selain itu, kita juga bisa mengikuti Training SEI - Se7en Energy Intelligence untuk lebih mengenal jenis-jenis energi dan vibrasinya demi kebahagiaan hidup kita.

Semoga bermanfaat

Inspirasi:

KUNCI KEBAHAGIAAN Penafsiran Ma’iisyatan-Dhanka “Kehidupan yang Sempit”

Training SEI - Se7en Energy Intelligence

[Day 143] Indonesia vs Bani Israil

Survey Indobarometer mengindikasikan bahwa sebagian, mungkin sebagian besar masyarakat, menginginkan kembalinya orde baru. Mereka mengingkan kehidupan yang relatif mudah untuk mendapatkan sandang pangan, yang penting dapur ngebul. Keinginan tersebut dapat dipahami dengan baik, masyarakat memang sudah muak dengan kehidupan pasca reformasi yang tak kunjung memberi mereka kesejahteraan material yang baik. Harga-harga terus merambat naik sehingga masyarakat, terutama yang miskin, seakan tak bisa berhenti mengencangkan ikat pinggang.

Namun, banyak yang lupa atau pura-pura lupa bahwa kesuksesan pembangunan ekonomi di era orde baru sesungguhnya adalah sesuatu yang semu. Ekonomi berbasis utang luar negeri yang sebanarnya merupakan bom waktu yang bisa meledak setiap saat. Tumpukan mesiu itu pun meledak saat Indonesia dihantam krisis ekonomi tahun 1997. Nilai tukar dollar pun melonjak gila-gilaan sampai belasan ribu rupiah per dollar. Akhirnya, proyek-proyek pembangunan pun mandeg serta banyak orang kehilangan pekerjaan. Kerusuhan Mei 1998, walaupun oleh banyak pihak dituding sebagai rekayasa Orde Baru untuk bertahan, hakikatnya adalah ledakan dari akumulasi kekecewaan masyarakat atas kemiskinan mereka selama berada di lapisan bawah. Jadi, klaim bahwa Orde Baru menyejahterakan masyarakat adalah kebohongan belaka. Kerusakan moral dan akhlaq serta kemiskinan saat ini adalah stadium lanjutan dari kebobrokan dan kebohongan di era Orde Baru.

Keinginan sebagian masyarakat untuk kembali ke era Orde Baru mengingatkan kita akan tingkah bani Israil yang justru ingin kembali kepada Firaun di Mesir Kuno. Walaupun mereka sudah lepas dari perbudakan oleh Firaun, namun ternyata jiwa mereka belum lepas dari perbudakan oleh diri mereka sendiri. Kehidupan di gurun pasir yang berat itu malah melemahkan jiwa mereka, bukan memperkuat. Padahal, kemerdekaan dan kebabasan mereka dari perbudakan Firaun adalah anugerah besar yang tidak terhingga dari Allah SWT kepada Bani Israil.

Allah SWT pun telah menganugerahi mereka dengan makanan berupa Manna dan Salwa, sebagaimana tersebut dalam Al Quran Surat Al Baqarah ayat (57) Dan telah Kami teduhi atas kamu dengan awan dan telah Kami turunkan kepada kamu manna dan salwa. Makanlah dari yang baik-baik yang telah Kami anugerahkan kepada kamu. Dan tidaklah mereka yang menganiaya Kami, akan tetapi adalah mereka menganiaya diri mereka sendiri. Namun, nikmat Allah SWT berupa makanan Manna dan Salwa tidak juga memuaskan hawa nafsu rendah mereka yang cenderung pada kesenangan dunia. Mereka merindukan kehidupan di Mesir Kuno, yang walaupun diperbudak, namun cukup terjamin sandang pagannya. “Dan (ingatlah) seketika kamu berkata : Wahai Musa, tidakiah kami akan tahan atas makanan hanya semacam. Sebab itu mohonkanlah untuk kami kepada Tuhan engkau, supaya dikeluarkan untuk kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, dari sayur-sayurannya, dan mentimunnya, dan bawang putihnya, dan kacangnya dan bawang-merahnya. Berkata dia : Adakah hendak kamu tukar yang amat hina dengan yang amat baik ? Pergilah ke satu kota besar, maka sesungguh­nYa di sana akan dapatlah apa yang kamu minta itu ! Dan dipukulkanlah atas mereka kehinaaan dan kerendahan, dan sudah layaklah mereka ­ditimpa kemurkaan dari Allah. Yang demikian itu ialah karena mereka kufur kepada perintah- perintah Allah dan mereka bunuh Nabi-nabi dengan tidak patut. Yang demikian itu ialah karena mereka telah durhaka dan mereka telah melewati batas.” Surat Al Baqarah ayat 60. Tafsir ayat-ayat tersebut dapat dilihat di situs Tafsir Al Azhar

Kini, sejarah kelam Bani Israil terulang lagi pada bangsa dengan umat Islam terbanyak di dunia, Indonesia. Orang-orang yang lebih rela diperbudak asal perutnya kenyang dan hidupnya nyaman daripada menderita dalam perjuangan menegakkan kebenaran. George Santayana, seorang filsuf pernah mengatakan “Those who forget the past are condemned to repeat it”. Bung Karno pun mencanangkan semboyan Jas Merah yang artinya “Jangan sekali-kali melupakan sejarah”. Sejarah bukanlah untuk dilupakan tapi juga bukan untuk menghantui kehidupan kita saat ini. Sejarah adalah pelajaran yang harus dipetik hikmahnya, bukan sekedar dihafalkan atau dijadikan monumen bisu tidak bisa berbicara.

Hadits yagn diucapkan beberapa abad yang lalu oleh Rasulullah SAW pun terbukti kebenarannya. Umat Islam, termasuk di Indonesia, kini bagaikan hidangan di atas meja makan. Musuh-musuh mereka siap menyerbu dari berbagai arah. Penyakit Bani Israil berabad-abad yang lalu kini menjangkiti umat Islam Indonesia, cinta dunia takut pada kematian. Dan penyakit itu pun melemahkan umat yang seharusnya mengemban amanah untuk menjadi khalifah di muka bumi. Padahal Allah sWT telah mengingatkan kepada kaum Bani Israil dan juga kita semua agar senantiasa bersyukur. “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS Ibrahim:7).

Lawan dari syukur adalah kufur, meskipun tidak selalu berarti sudah keluar dari agama Islam. Bisa jadi, kita pun meruapakan bagian dari orang-orang yang tidak bersyukur, yang merupakan kezaliman. Sebagaimana nabi Yunus berdoa saat berada dalam perut ikan besar yang menelannya, begitu pulalah kita harus kembali kepada Allah SWT mengakui keslaahan dan kezaliman kita selama ini dan kembali ke jalan yang diridhoiNya. “Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: “Bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Maha suci Engkau, sesungguhnya aku adalah Termasuk orang-orang yang zalim.” Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari pada kedukaan dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.” (QS. Al Anbiya’: 87-88),

Astaghifirullahal Adzim.

Referensi

 http://www.kaskus.us/showthread.php?t=84…

 http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan…

 http://tafsiralazhar.net46.net/myfile/S-…

[Day 141] Content, context, and coding

Jika mau diringkas, komponen pembentuk sebuah website ada tiga macam, bisa kita bilang tiga C. C yang pertama adalah Content. Content is king, demikian pepatah yang berlaku di dunia Website. Sebagus apapun desainnya kalau tulisan yg didalamnya tidak berkualitas maka bakal ditinggalin. Lebih baik desainnya biasa saja tapi artikelnya berkualtias dan bermanfaat. Desain yang sederhana malah membuat sebuah website lebih cepat dan mudah untuk di-load ke komputer. Lomba QN ala Tobie ini membuat saya cukup kewalahan menyediakan content yang diperlukan namun saya tetap menikmatinya. Jeda 24 antar QN membuat tulisan yang dibuat lumayan bisa dipahami.

Content juga merupakan senjata para internet marketer untuk mendapatkan pelanggan dan profit. Rahasianya adalah bagaimana kita bisa membuat tulisan yang content-nya berkualitas, enak dibaca juga mudah ter-index sama search engine. Bisa saja kata-kata kunci diacak sedemikian rupa sehingga search engine menempatkan situs yang memuat artikel itu di ranking tertinggi. Namun, apabila pembaca tidak mengerti apa yang dibahas dalam tulisan itu, mereka pasti akan pergi. Persis iklan di TV, saat iklan tayang, pemirsa malah ganti channel atau bahkan menyeduh kopi di dapur. Bahkan, diantara pelajaran yang diberikan bagi para affiliate marketer WebMerdeka.com adalah bagaimana membuat artikel yang bisa menggiring para pembacanya untuk membeli produk yang ditawarkan, seperti Sekolah-Menulis Online dan ebook Cara Dahsyat Menjadi Penulis Hebat. Minimal membuat mereka tanpa sadar memasukkan brand dari produk itu di alam bawah sadarnya. Materi tersebut juga merupakan salah satu bahasan pokok dalam SMO - Kelas Online Writing

Walaupun content jadi rajanya, namun kalau istananya kurang menarik mungkin pengunjung gak betah, atau paling tidak sebagian dari mereka. Sesudah content yang berkualitas, desain web yang menarik menjadi pertimbangan selanjutnya. Disinilah C yang kedua, yaitu context, berperan. Context tentu tidak bisa didesain asal, salah - salah nanti malah norak atau lebay. Sebuah website salon kecantikan mungkin cocok kalau warnanya pink, tapi kalau yang dijual bahan bangunan, tentu tidak pas. Desain yang cocok untuk Website seorang artis sinetron atau penyanyi pop yang fenimin tentu berbeda dengan website sebuah group Heavy Metal. Memoles context sebuah website diperlukan keahlian dalam bidang desain grafis dan cita rasa seni yang tinggi serta kesesuaian dengan tema. Biasanya tema blog merepresentasikan pemiliknya, ada yang gambarnya berbunga-bunga, ada yang ditempati ular naga. Saat masih awal-awal nge-MP, pernah ada kontak yang bilang desain MP saya terlalu polos. Dia bilang, coba cari theme yang lain di group customized themes yang ada di multiply. Saya bilang, saya belum tahu caranya, ilmunya baru sampai HTML belum sampai CSS. Dia bilang code CSS-nya tinggal di copy paste dan dimasukkan ke kotak custom CSS di Multiply kita. Saya coba dan alhamdulillah berhasil.

Kisah percakapan saya dan teman kontak MP di atas membawa kita pada C yang terakhir yaitu coding. Coding ini adalah kode-kode atau script yang dipakai untuk menampilkan content dan context agar bisa dibaca dan dinikmati pengguna internet. Seberapapun besar manfaat content dan seindah apapun context sebuah website, kalau coding-nya errror tentu tidak bisa dinikmati pengaksesnya. Fitur-fitur penting dalam sebuah website, seperti fasilitas pencarian atau search, dimungkinkan karena adanya coding yang baik.

Situs - situs penyedia blog engine, sperti Multiply, blogger atau wordpress biasanya memberi ruang terbatas untuk coding. Mereka memberi ruang cukup luas untuk mengisi content dan memoles context. Namun, mereka yang senang mengutak-atik coding biasanya membuat situs sendiri sesuai dengan keinginannya. Di balik manfaat dan keindahan sebuah situs di internet, terdapat sejumlah kode-kode rumit yang terdiri dari HTML, CSS, PHP, Flash dan sebagainya. HTML bisa dibilang fondasi dari sebuah Website, CSS sebagai pemolesnya dan lain sebagainya. Dulu, sebelum terampil menggunakan fitur-fitur Multiply, saya kebingungan bagaimana membuat link dalam content yang saya isikan di Multiply. Suatu ketika, di toko buku, saya menemukan buku tentang HTML. Saya coba praktekkan untuk membuat beberapa posting di Mulitply dan berhasil. Namun, akibatnya saya cukup kerepotan membuat dan memeriksak kode-kode HTML yang dimasukkan sehingga memakan waktu yang lama. Belakangan saya ketahui bahwa untuk membuat link dalam journal di Multiply tidak perlu mengedit HTML. Cukup block tulisan yang ingin dijadikan link, lalu klik icon untuk membuat link dan masukkan link yang dimaksud. Praktis dan tidak njelimet. Saya juga pernah diskusi soal blog sama teman yang ahli coding ini dan dia bilang dia tidak suka nge-blog dan menulis.

Dapat diambil kesimpulan bahwa untuk membuat sebuah website yang baik, berkualitas dan nyaman dikunjungi .. serta memberi profit yang maksimal bagi yang membuatnya, ketiga aspek di atas harus benar-benar diperhitungkan. Yang terbaik adalah masing-masing aspek itu ditangani oleh ahlinya, dan yang ahli dalam satu bidang tidak perlu menyombongkan diri pada ahli dari bidang lain karena semuanya penting.

Semoga bermanfaaat,

[Day 137] Ikhlas

Entah siapa yang memulai, namun kita sering mendengar bahwa perumpamaan ikhlas adalah seperti, maaf, BAB. Sesudah dikeluarkan, tidak perlu lagi dilihat atau dipikirkan. Mungkin itulah sebabnya banyak diantara kita yang amalnya sperti orang kebelet untuk ke belakang. Seperti sholat, saat salam terakhir diucapkan dan kepala ditengokkan ke kiri, saat itu timbul perasaan lega yang luar biasa. Alhamdulillah, sudah selesai. Itu pun terkadang dikerjakan di menit-menit terakhir, sekitar 30 menit sebelum waktu sholat yang bersangkutan berakhir dan masuk waktu sholat yang baru. Puasa pun demikian, yang penting tidak makan, minum atau berhubungan intim di siang hari. Sesudah adzan Maghrib berkumandang, rasa lega pun datang, kewajiban sudah tertunaikan. Sambil menghela nafas panjang, kita pun seperti terlepas dari beban yang sangat berat.

Paradigma ikhlas yang seperti itu membuat kita beramal dan beribadah secara asal-asalan. Ibadah ritual tidak kita perhatikan aspek rukun dan sunnahnya. Sementara amal sholeh kita kerjakan seenak hati kita. Mirip dengan Qabil, anak nabi Adam yang durhaka. Dia mempersembahkan qurbannya dengan tanam-tanaman yang sudah membusuk dan tidak layak dimakan. Pada akhirnya, bukan hanya kepada Allah kita durhaka namun juga kepada sesama manusia dan alam sekitar kita. Betapa banyak orang yagn seharusnya mendapat manfaat dari amal-amal yang kita lakukan dengan baik, namun kita lakukan dengan asal-asalan. Kita pun kehilangan kesempatan meraih kebaikan dari orang lain, baik dalam bentuk balasan pertolongan atau doa-doa yang tulus.

Kalau kita merujuk kepada penjelasan Ibnul Qayyim tentang syarat diterimanya amal, maka sudah semestinya kita memikirkan ulang paradigma ikhlas tadi. Ibnul Qayyim, mengatakan bahwa amalan itu dikerjakan karena:

1. Ada kecintaan kepada Allah ta\’ala.
2. Ada rasa takut karena azabNya yang Maha Pedih
3. Ada rasa harap, agar amal itu diterima Allah (lebih kita kenal, dengan konsep khauf dan roja).

Maka, ikhlas sesungguhnya adalah seperti kita mempersembahkan sesuatu yang berharga kepada orang yang kita cintai, raja yang kita hormati atau kepada majikan yg mempekerjakan kita. Allah SWT adalah Raja, Kekasih sekaligus Majikan kita dalam kehidupan di dunia ini. Apakah kita rela dan tega mempersembahkan sesuatu yang seharusnya kita buang ke belakang kepada kekasih kita? Apakah kita berani memberikan sesuatu yang serupa dengan yang kitapun jijik melihatnya kepada Raja atau Penguasa yang kita hormati dan takuti? Apakah layak kita menjual sesuatu yang merupakan limbah dari tubuh kita sendiri kepada pembeli barang dagangan yang kita jual?

Al Quran sendiri mengumpamakan Ikhlas seperti susu yang mengalir di antara kotoran dan darah dalam tubuh sapi. “Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum daripada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara kotoran dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya. (QS 16 : 66)”. Mungkin kita bisa membayangkan kita berada di sebuah restoran untuk memesan segelas susu murni. Betapa gusarnya kita apabila saat disuguhi susu murni yang kita pesan, ternyata ada kotoran dan darah di dalamnya. Bisa jadi kita marah dan komplain kepada pelayan restoran tersebut, atau bahkan kita tidak pernah lagi memesan susu di sana. Bisa jadi, susu sebelanga yang ada dalam hati kita telah ternodai kotoran dan darah sehingga tidak layak lagi untuk dijual dan dikonsumsi. Padahal pahala hasil amal sholeh kita, yang dianalogikan sebagai susu itulah bekal kita di akhirat nanti. Betapa meruginya kita apabila ternyata bekal kita sudah tidak berharga lagi saat perhitungan akhir dilaksanakan di sana. “… Jika kamu mempersekutukan (Rabb), niscaya akan hapuslah amalmu….” (QS. Az Zumar: 65).

Seorang sufi mencari penghidupannya dengan menenun kain. Suatu saat, di pasar, seorang pembeli yang sangat ahli tentang kain mendatanginya. Sang pembeli menunjukkan kekurangan-kekurangan yang ada pada kain tersebut. Sang sufi terkejut dan menangis. “Mengapa anda menangis” tanya si pembeli? “Aku akan tetap membeli kain ini”. Sang sufi menjawab “Ketahuilah saudaraku, bukan kain ini yang kutangisi. Namun, aku takut akan ibadah dan amalanku selama ini. Jika engkau saja bisa mengetahui kekurangan hasil kerja dan amalku, apalagi Dia yang Maha Mengetahui”. Hari Moekti, seorang mantan rocker yang sekarang menjadi dai pernah berkata: “Orang yang ikhlas itu tidak takut kaya dan tidak takut miskin. Tidak takut terkenal dan tidak takut tidak terkenal. Saya sering dihina dengan pilihan saya, tetapi saya berbahagia, karena dengan dihina dosa saya terhapus\“. Pernyataan Kang Hari itu dikutip dari buku Menjadi Pemenang Kehidupan, Halaman 168 - 169 terbitan Penerbit Leutika.

Ikhlas adalah rahasia terdalam antara hamba pelaku dengan Allah SWT. Bahkan, Allah SWT lebih mengetahui keikhlasan kita dibandingkan diri kita sendiri. Malaikat pencatat dan setan penggoda pun tidak mengetahui tingkat keikhlasan kita. Kita hanya bisa mengetahui keikhlasan kita dari kondisi-kondisi tertentu. Ikhlas adalah proses belajar yang panjang, bahkan mungkin merupakan pelajaran tersulit dan terberat dari segala pelajaran yang harus kita lalui dalam kehidupan. Belajar untuk ikhlas adalah dengan beramal itu sendiri, beramal dengan sebaik-baiknya tanpa mengharap apapun dari manusia. Kita memohon kepada Allah agar bisa beribadah dengan ikhlas untuk-Nya semata, sebagaimana doa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam: “… Sesungguhnya jika Rabb-ku tidak memberi hidayah kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat.” (QS. al An\’aam: 77).

Semoga bermanfaat

Related links

Inginkah anda menjadi orang yang ikhlas

Ringkasan buku Ikhlas - Syarat Diterimanya Ibadah